Kamu punya caramu. Ini caraku.

Jumat, Januari 27, 2012

Cinta SMA


"Ehemm, Put siapa tuh." ucapku setengah berbisik melirik ke arah seseorang.

"Apasih!" wajahnya memerah.

"Haha. Nggak di sapa Put?"

"Ah jangan gitu dong." Putri meninggalkan ku sendiri dan masuk kedalam kelas.

Aku hanya melihat keheranan ke arahnya. Ia adalah temanku, Putri. Walaupun kita satu sekolah, tetapi aku baru benar-benar mengenalnya ketika aku naik kelas 2 SMA karena kami satu kelas. Ya, kami sudah cukup dekat. Bahkan aku tau suatu rahasia tentangnya. Tentang perasaannya kepada seseorang.

Putri adalah teman yang baik. Sebaik apa? Pokoknya baik. Ia sering membantuku ketika aku kesusahan, dan aku berharap begitu sebaliknya denganku. Aku berharap bisa selalu membantunya.

Beberapa hari ini aku melihat suasana hatinya sedang baik, sangat baik malah. Putri sering sekali tersenyum. Dan dia juga sering bercerita padaku juga pada teman-teman dekatnya. Bahwa ia sedang merasakan yang namanya 'jatuh cinta'. Ia menyukai seseorang. Dan ini adalah hal wajar untuk remaja seusia kami.

Seseorang yang disukainya berusia satu tahun lebih tua, laki-laki itu sudah kelas 3 SMA jurusan IPA. Dan ia beruntung, karena ia berhasil membuat teman baikku menyukainya.

Aku bisa melihatnya. Ketika Putri tersipu saat berpapasan dengan kakak kelas itu. Atau tersenyum-senyum sendiri sehabis berbicara dengannya, karena mereka memang sudah saling mengenal. Mereka saling kenal karena mereka mengikuti ekstrakurikuler yang sama, yaitu ekstra Pramuka.

Mereka sering bertemu ketika ada kumpul Pramuka . Aku mengetahuinya karena Putri yang bercerita padaku. Dan semakin sering bertemu ketika mereka sama-sama akan menjalani pelantikan Bantara. Aku tidak begitu tau soal itu karena aku memang tidak ikut ekstra Pramuka. Tapi yang jelas itu menyenangkan untuknya.

Ya, aku mendukungnya. Tidak hanya aku, teman-teman dekatnya juga mendukungnya. Kami senang jika Putri senang.

Sudah hampir dua bulan setelah Putri bercerita padaku bahwa 'ia sedang menyukai kakak kelas'. Kemudian tidak terdengar apa-apa lagi selain hubungan mereka masih biasa-biasa saja dan tidak ada yang berubah.

Yuda. Nama laki-laki yang disukai Putri. Dia adalah sosok yang gagah karena sikapnya yang baik ditambah postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Itu merupakan pesona tersendiri dalam dirinya. Kini, ia sudah mulai dekat dengan Putri. Mereka sudah mulai sering ngobrol dan bercanda bersama ketika bertemu. Kak Yuda juga sering memberinya perhatian, seperti menanyakan 'ada masalah apa?' ketika Putri terlihat sedih dan ia mau mencoba menghibur Putri. Atau dalam situasi yang lain ketika Putri hampir kena marah oleh Pembina Pramuka yang galak karena perlengkapan pramukanya yang tertinggal, kak Yuda juga mau melindunginya dengan memberikan perlengkapannya untuk Putri agar ia tidak diberi sanksi. Lama-lama perhatian-perhatian kecil itu sudah menjadi keseharian Putri, dan sepertinya Putri mulai nyaman dengan itu.

Hari ini semua siswa yang mengikuti ekstra pramuka berkumpul di ruang pramuka. Mereka berkumpul dalam acara rujakan bersama. Ya, mereka hanya ingin berkumpul bersama saja.

"Kak Putri, main gombal-gombalan yuk? Kalo nggak mau berarti nggak asik!" kata salah seorang adik kelasnya sambil mengambil irisan buah mangga lalu memakannya.

"Ha? Tapi gimana ngegombalnya?" Putri sadar ia tidak pandai merayu apalagi main gombal-gombalan. Ia melirik ke arah kak Yuda sebentar lalu mulai berbicara pada adik kelasnya tadi, "ya udah gini deh, kamu tau nggak apa bedanya kak Yuda sama kamu?"

Kak Yuda mengangkat kedua alisnya, "aku tau, kalo aku laki-laki, dan kalo dia perempuan kan."

"Bukan!"

"Tarus apa dong kak?" kata adik kelasnya tadi.

"Bedanya itu kalau hatinya kak Yuda milik pacarnya, kalo hati kamu harus jadi milik aku." Putri mulai ilfeel dengan dirinya sendiri. Dan pasti apa yang dikatakannya barusan kedengaran konyol ditelinga teman-temannya. Tapi beberapa detik setelah Putri berpikir begitu, mereka malah tertawa bersama.

"Kamu apa sih Put! Hati aku itu cuma milik Allah. Aku nggak punya pacar." kak Yuda berkata masih sedikit tertawa.

Entah kenapa kata-kata Yuda menimbulkan sedikit selentingan ke hati Putri. Ia merasa senang.

***

"Eh Tia, lama-lama aku capek. Kayaknya aku nggak suka lagi sama dia. Mending aku ngefans biasa aja sama dia biar nggak sakit hati."

"Ha? Kamu serius Put? Kenapa gitu?" kataku agak terkejut.

"Ya, nggak papa." jawaban yang simple untuk menjawab pertanyaanku.

Aku tidak mau banyak bicara. Toh itu pilihannya. Tetapi walaupun ia berkata begitu, kami masih sering menggodanya. Ketika kita kerja kelompok bersama misalnya, ada saja kata-kata yang diucapkan teman sekelompok kita yang membuat wajah Putri memanas. Seperti memanggilnya dengan kata "Yuda Yuda." yang sering refleks membuat Putri menoleh dan akhirnya ia sendiri yang malu. Lalu kami hanya tertawa. Itu membuktikan bahwa sebenarnya ia masih suka.

Sampai suatu ketika, saat kami berdua pulang bersama. Sudah hampir turun dari tangga sekolah menuju pintu gerbang, ada seseorang yang memanggil Putri. Itu temannya dari ekstra Pramuka. Ia terlihat terburu-buru tetapi wajahnya kelihatan senang.

"Ada apa Siska? Kenapa buru-buru?"

"Eh Put! Tau nggak aku baru dapet berita apa?" katanya dengan wajah yang sumringah.

"Ada apa sih?" Putri masih melihatnya dengan raut keheranan.

"Kemarin aku sms an sama Kak Yuda dan dia bilang kalo dia suka sama kamu." jawabnya kali ini tatapannya fokus melihat reaksi Putri.

Tetapi Putri sama sekali tidak menunjukkan reaksi yang berarti. "Jangan ngawur kamu! Aku mau pulang nih."

Siska yang jengah karena tidak dipercaya pun menarik Putri ke kursi terdekat. Aku pun mengikutinya. "Aku serius,…"

Siska bercerita panjang lebar. Dan aku pun jadi ikut-ikutan mendengar karena aku ada disebelah Putri. Siska bercerita panjang soal kak Yuda yang menyukainya tetapi belum siap untuk mengatakannya dan blablabla begitu seterusnya.

Hingga cerita Siska selesai, dan kami berdua pulang, Putri masih terlihat biasa hingga ia bertanya, "apa iya ya?" pertanyaan yang lebih terdengar untuk dirinya sendiri seakan tidak percaya tetapi menginginkan itu benar.

"Cieee Putri! Seneng pasti! Buruan nabung ya, siap-siap buat Pajak Jadian. Dan aku mesti dapet traktiran loh!" kata ku sambil tersenyum.

"Jangan asal ngomong. Kan belum tentu bener!" jawabnya malu.

"Ah pake malu-malu kamu Put." aku hanya memekik.

***

Sebenarnya aku agak heran pada Putri. Sudah jelas-jelas ia menyukai kakak kelas itu, tetapi ia sangat pandai membuat seakan-akan semuanya biasa-biasa saja.

Bahkan ketika ia sedang dekat dengan anak kuliahan yang sudah menyatakan cinta padanya pun ia tetap terlihat biasa.

Itu aku tau ketika suatu hari ia bercerita lagi padaku. Dan pada akhirnya mengungkapkan perasaannya.

"Ti, semalem aku sms kak Yuda."

"Terus? Kamu bilang apa?"

"Aku curhat ke dia. Kayak biasa, kayak ke kamu atau temen-temen aku lainnya." ya, Putri memang suka berbagi cerita dengan teman-temannya tidak terkecuali kak Yuda yang memang sudah cukup ia kenal.

"Hmm." aku membiarkan omongannya selesai.

"Aku cerita ke dia, kalau aku lagi bingung."

"Bingung kenapa?"

"Aku bilang ke dia, gimana kalo misalkan dia di tembak cewek tapi dia lagi suka sama cewek lain. Apa dia akan terus menunggu atau membuka hatinya untuk cewek lain tadi." aku jelas tau bahwa itu kisahnya sendiri.

"Terus apa jawabannya?"

"Dia cuma jawab 'nggak usah bingung, dibuat santai aja.'"

"Terus terus?"

Aku yang masih penasaran, malah membuat Putri diam. Ia kelihatan sedikit sedih. Dan yang aku takutkan, jika ketika ia sedang senang ia bisa terlihat biasa-biasa saja. Bukan tidak mungkin dibalik wajahnya yang kelihatan sedikit sedih ini, sebenarnya ia sangat sedih.

"Kamu tau? Dia seakan-akan maksa aku ngomong."

"Maksud kamu dia udah tau kalo kamu suka sama dia?"

Putri mengangguk kecil.

"Jadi kamu gimana?"

"Aku bilang ke dia walaupun nggak langsung. Aku bilang ke dia kalau aku di tembak sama cowok yang aku sebut si B, tapi aku suka sama orang yang aku sebut si A. Dan aku tanya mesti gimana."

"Dia jawab apa Put?" aku bertanya pelan karena Putri juga berkata pelan.

Putri menarik nafas dalam-dalam, "aku udah omongin semuanya sama dia semalaman Ti. Bahkan aku tidur jam 2 pagi gara-gara itu. Dan kita sepakat untuk jadi sahabat aja. Mungkin itu lebih baik dan insyaallah itu yang terbaik."

"Kamu serius Put? Yaampun, sabar ya." kataku menenangkan, aku tidak berani bertanya lebih detail kecuali ia sendiri yang mau bercerita.

***

Malam ini, iseng aku buka-buka situs jejaring sosial Facebook ku. Aku buka barangkali ada pemberitahuan. Dan kebetulan aku ngeliat si Putri nulis status.


 

Putri
Aku sudah mengikhlaskannya. Kalaupun aku menangis, ini adalah tangis kebahagiaan untukmu.


 

Jelas aku tau itu untuk siapa. Dan tidak lama aku melihat ada yang mengomentari status itu. Kak Yuda yang komentar.


 

Komentar:

Yuda
Maafkan kesalahan si A ya, karena memilih seperti ini. Bagaimanapun juga kita tetap kawan kan?

Putri
:)


 

Aku terharu membacanya. Ditambah lagi setelah itu aku melihat di Facebook juga bahwa kak Yuda tengah 'berpacaran' dengan seorang adik kelas ku dan Putri. Putri mengenalnya. Astaga.

Sifat tegar Putri malah membuat aku kesal dan marah pada kakak kelas yang satu itu. Dia jahat sekali. Karena sudah menyakiti temanku. Padahal ia tau bagaimana perasaan Putri tetapi malah bersikap seperti itu. Dan bukannya aku baru mendengar kalau ia juga menyukai Putri? Tapi kenapa tiba-tiba ia sudah menjalin hubungan dengan orang lain? Dasar plin-plan! Dan mungkin ia memang tidak pantas dengan temanku. Aku yakin tidak hanya aku yang berpikir seperti ini, teman Putri lainnya pasti akan berpikir sama jika tau masalahnya. Ya, ini memang asumsiku saja. Walau bagaimanapun, aku tidak tega menanyakan alasan sebenarnya pada Putri.Cukup aku tau bahwa ia kini tengah sedih. Dan seharusnya aku dan teman-temannya menghiburnya.

Pendapatku tentang kakak kelas itu sudah buruk! Aku tidak menyukainya. Kemudian tidak lama aku melihat status baru di Facebook.


 

Yuda
Maafkan aku yang sudah menyakitimu. Maafkan sikapku yang membuat aku buruk dimatamu. Tapi percayalah aku bisa menjadi teman yang baik untukmu. Dan yakinkan dirimu untuk bisa menerima ini, karena mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita.


 

Membaca itu, tetap masih ada rasa tidak suka padanya. Dan tidak lama aku membaca lagi. Mereka ini sedang berbalas status sepertinya. Aku memakluminya. Mungkin dengan itu mereka bisa lebih baik.


 

Putri
Yah nggak enak banget sekarang udah nggak ada lagi kakak kelas yang aku fans! :')


 

Aku tau statusnya yang itu ia tulis untuk menghibur dirinya sendiri. Dalam waktu yang tidak berjarak lama ada pesan masuk di handphone ku.

From    : Putri
To    : Tia
          Ti, kakak kelas jadian sama adik kelas :'(

Aku tidak kaget membacanya. Karena aku baru melihatnya di Facebook.

From    : Tia
To    : Putri
Sedih banget sih cerita kamu put :( kamu yg sabar ya..

 
From    : Putri
To    : Tia
ya gpp. dr ini semua aku tau kalau g semua yg kita anggap baik itu selamanya akan baik, dan g semua yg kita percaya itu selamanya bisa dipercaya. Aku ambil hikmahnya aja Ti :')

 
From    : Tia
To    : Putri
Aduh Put. Udah mas mas gk jelas gitu gk usah dipikirin yah. Bikin emosi banget tau. Kasian kamunya malah :(

 
From    : Putri
To    : Tia
Haha iya ngapain juga aku pikirin. Dia emang gk jelas. Makasih ya udah mau dengerin :) :*

_flashback_


Handphone nya berdering menandakan ada sms masuk. Lalu ekspresinya berubah ketika membaca isinya, itu…

NEW MESSAGE!

: Aku tau siapa orang yang kamu sebut si A itu. Kamu jujur aja sm aku..
: Maksudnya?
: Itu aku bukan? Aku g mau trlalu pede sbnernya :p
: Menurut kakak?
: Jadi bener?
: Jujur, iya.
: Terus?
: Apanya yg terus? aku udh jawab iya kan.
: Aku juga suka sama kamu put :) tapi sebaiknya kita jd temen aja, krna smakin ksini aku sadar kalo kmu g bisa pahamin aku.
: Maksud kakak gmna sih?
: Ya aku nggak mau kecewain kmu utk yg kedua kalinya stlah ini.
: Y udh kalo gitu gpp. Skrg aku jd tau kalo kak yuda jg g bisa ngertiin aku :)
: Hmm
: Ya udah aku tidur dulu ya kak, aku ngantuk.
: Selamat tidur putri… have a nice dream ya

 

Putri masih tenggelam dalam kebingungan juga sakit hati yang ia rasakan. Ia tidak mengerti kenapa 'ia' yang lain itu tega melakukan ini. Sebenarnya sampai sekarang ia bingung apa yang dimaksud kakak kelas itu tadi, yang jelas ia tau bahwa kakak kelas itu tidak bisa bersamanya. Dan mungkin ia memang tidak seharusnya bersamanya.


_flashbackend_





 

Semuanya sudah berakhir. Aku berharap Putri bisa cepat melupakan perasaannya kepada kakak kelas itu. Dan aku yakin suatu saat Putri akan mendapat sesuatu yang jauh lebih baik dan meyenangkan dari pada ini. Karena ia gadis yang baik. Sangat baik.


 


 

inspirated by 'GWP'
Read More

Senin, Januari 23, 2012

Hey, Generasi Muda Disini…


Ini postingan yang aku buat berdasarkan mimpi yang mungkin nggak berarti apa-apa. Tapi mimpi ku membuat aku berpikir.

Ini bukan biasanya aku mimpi sesuatu yang berbau politik. Jadi mungkin agak aneh. Dan kayaknya akan jadi bener-bener aneh.

Di dalam mimpi aku yang aku ingat hanya sebagian, nggak bisa aku ingat semuanya. Aku melihat banyak anggota DPR yang dalam mimpi ku wajahnya nggak ada yang jelas -burem gituu- mereka sedang melakukan korupsi. Tidak tau bagaimana aku tau kalau mereka adalah DPR yang sedang melakukan korupsi, yang jelas aku bisa tau. Karena ini mimpiku. Lalu kejadian lain yang aku ingat dalam mimpiku adalah, banyak sekali mahasiswa yang demo membawa kertas-kertas besar dengan coretan ditengahnya yang dalam mimpiku tiba-tiba aku lupa caranya membaca. Jadi aku tidak tau apa tulisannya. Kemudian terdengar teriakan-teriakan. Menyuarakan pendapat mereka, tapi maaf karena lagi-lagi aku nggak ingat apa yang mereka teriakan. Dan setelah itu yang aku ingat lagi adalah para pejabat Negara juga yang cuek. Tidak menggubris, tidak menghiraukan sama sekali, padahal mahasiswa tadi sudah berusaha keras.

Lagi-lagi ada potongan kejadian yang aku ingat dari mimpiku. Kali ini aku ingat apa yang di teriakkan, kira-kira seperti ini: "Katanya masa depaan ada di tangan generasi muda! Tapi kalau pendapat kami saja tidak pernah di dengar, bagaimana kita bisa menggenggam masa depan yang lebih baik!!"

Itu adalah sebuah protes keras aku kira. Yang dilihat dari bagaimanapun cara berpikirku saat ini, aku setuju! -kan mimpiku udah kedengaran aneh pasti-

Lalu terbesit juga dalam pikiranku, yang agaknya aku masih setengah sadar. Karena aku masih mengingatnya padahal aku yakin mataku masih terpejam. Saat itu aku bertanya.

Apakah mereka yang korupsi sekarang, dulunya juga pernah menyampaikan pendapatnya dan tidak didengar pula?

Dan pikiranku disini adalah: karena mereka pernah tidak di dengar maka mereka juga bisa melakukan korupsi seperti orang-orang sebelum mereka.

Lalu apakah orang-orang seperti mahasiswa tadi yang tidak di dengar, suatu saat nanti juga akan melakukan korupsi?

Dan pikiranku lagi adalah: apa iya? Atau jangan-jangan memang seperti itu? Semakin banyak usia seseorang, semakin tua pikirannya, juga akan seperti itu-itu saja tindakannya -korupsi lagi korupsi lagi-. Tidak seperti anak muda yang pikirannya masih bebas, masih kemana-mana yang aku rasa itu bagus. Kalau memang begitu, tolong jangan! Jangan merubah pikiran kalian hingga tua nanti. Konsisten dan tetap pada pikiran kalian saat muda saja.

Dan untuk mereka yang sudah 'dewasa' lihatlah! Generasi muda disini! Hallo!! Lirik dong, kita ini bisa.

-ya, sekarang postinganku benar-benar sudah berada di penghujung keanehan kan?-


Hari ini aku main twitter, dan nggak sengaja aku menemukan artikel yang pas aku baca ini 'kasian'. Kenapa orang Indonesia yang 'itu' tidak bisa…(?) tidak bisa apa ya, aku bingung ngomongnya. Baca aja disini
-sedikit contoh- mungkin kalian akan bisa menyebutnya sendiri.


 
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Blogroll

Download

Apapun proses yang tengah kamu jalani, percaya deh! Kamu hebat :)

Popular Posts

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Followers

Angka Hoki

Cari Blog Ini

Translate

Laman

Pages - Menu

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

About

Copyright © vikaetiana | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com