Kamu punya caramu. Ini caraku.

Jumat, September 30, 2011

Budaya Politik Unggul

Budaya Politik adalah merupakan salah satu sistem politik yang sifatnya sangat signifikan sekali.

Lebih jauh lagi marilah kita lihat hubungan antara budaya politik dan perilaku politik. Perilaku politik adalah sebuah telaahan mengenai tindakan manusia dalam situasi politik. Situasi politik sangat luas cangkupannyaantara lain : pengertian respons, terhadap perundang-undangan dan lain-lain. Jadi, denan demikian perilaku para pemilih atau pemberi suara dalam pemilihan umum, misalnya, karena dapat menggambarkansikap mereka terhadap pemerintah, merupakan salah satu telaahan tentang perilaku politik.Tindakan dan perilaku politik individu sangat ditentukan oleh pola orientasi umum yang tampak secara jelas sebagai pecerminan budaya politik. Sedikit atau banyak seorang individu terkait pada nilai keudayaan tempat ia hidup. Dari pernyataan, pidato, tulisan, bahkan dari mitos dan legenda serta folklore dapat diungkapkan hakikat pola budaya politik. Pengenalan atas budaya politik secara cermat merupakan salah satu informasi yang terpercaya bagi pengenalan sistem politik. Segala tingkah lakudapat merupakan parameter atau petunjuk yang jelas dengan siapa atau dengan apa seseorang berasosiasi. Misalnya, perilaku sebagai pencerminan budaya politik, seperti diuraikan diatas, merupakan alat pembentuk konsep yang sangat berharga, yang dapa menghubungkan atau mempertemukan telaahan tentang individu dalam lingkungan politik dengan sistem politik sebagai kesatuan.

Budaya unggul dalam alam politik Indonesia sepertinya menjadi pekerjaan rumah yang besar, rumit, dan menuntut banyak pengorbanan. Budaya unggul sebenarnya mitos etika politik. Sejarah etika politik kita masih terjebak dalam lingkup ekonomi dan kekuasaan. Justru kedua lingkup ini menjadi penghalang bagi lahirnya sebuah budaya unggul, tetapi budaya konsumtif dan arogansi. Akibat lebih lanjut kedua budaya ini adalah lahirnya tindakan dengan tujuan menghalalkan segala cara.

Budaya Politik Unggul didefinisikan sebagai semangat dan kultur untuk mencapai kemajuan dengan cara kita harus bisa, kita harus berbuat yang terbaik.

Difinisi ini jelas masih belum jelas karena belum punya contoh yang konkret. Supaya lebih nyata dan tidak spekulatif dalam mengartikan budaya unggul ini, maka budaya unggul perlu dikaitkan dengan budaya politik.

Budaya politik oleh Gabriel Almond dan Verba diartikan sebagai dimensi psikologis dari sistem politik. Dengan demikian, budaya politik mencakup perilaku, kepercayaan, tata nilai, dan keterampilan yang berkembang diseluruh bidang kehidupan masyarakat. Jelas disini yang menjadi target budaya politik itu adalah subyek yang berbudaya dan yang punya kompetensi. Almond dan Verba yakin semua orang dengan kemampuannya dapat berperan serta asalkan diberi kesempatan. Namun seandainya kesempatan menjadi monopoli orang-orang yang haus kekuasaan dan harta, jangan harap budaya dan politik yang unggul tidak bisa tidak menuntut ketulusan dari kita semua dalam berperan serta.

Budaya dan politik unggul itu dengan kemapanan sebuah demokrasi mendapat tempat utama dalam hierarki politik. Budaya politik yang demokratik ini menyangkut suatu kumpulan sistem keyakinan, sikap, norma, dan persepsi yang menopang terwujudnya partisipasi.

Demokrasi dalam arti ini adalah memerlukan hadirnya orang lain untuk berandil, berperan serta menyumbangakan kompetensinya.

Budaya dan politik yang unggul akan memiliki tingkat legitimasi yang tinggi karena legitimasi itu diperoleh dari pertisipasi politik yang demokratik dimana semua masyarakat dilibatkan dalam kegiatan politik. Partisipasi politik ini penting sehingga demokrasi tidak dirasa menjadi barang mewah bagi kelompok tertentu, khususnya rakyat kecil. TIdak boleh melecehkan partisipasi rakyat. Rakyat adalah kata kunci demokrasi itu sendiri.

Masayarakat Pluralistik.

  1. Pluralistik mengandung pengertian bahwa dalam kehidupan bersama dilandasi oleh sikap inklusif, yang bermakna bahwa dalam berhubungan dengan pihak lain tidak bersikap menang sendiri dan tidak meremehkan pendapat orang lain.
  2. Pluralistik tidak bersifat sectarian dan eksklusif yang terlalu membanggakan kelompok sendiri dan tidak memperhitungkan kelompok lain.
  3. Sikap pluralistik tidak bersifat formalistik belaka, yang hanya menunjukkan semu. Tetapi ini dilandasi sikap saling percaya , saling menghormati bahkan harus dilandasi rasa kasih sayang.
  4. Sikap pluralistik tidak bersifat ekspansif, sehingga labih mementingkan kualitas dari pada kuantitas.
  5. Pluralistik bersifat toleran.
  6. Pluralistik bersifat akomodatif dilandasi oleh kedewasaan dan pengendalian diri yang prima, juga bersifat sportif.

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat pluralistik. Masyarakat Indonesia sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Lombard (2004) adalah masyarakat yang nuansa konfliknya begitu kental karena tersusun atas berbagai macam suku, agama, ras, golongan dan berbagai kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat yang diwarnai perbedaan identitas ideology dan budaya, memberikan asumsi bahwa Indonesia memiliki karakteristik yang rumit dalam setiap penyelesaian masalahnya. Profesor xxxxx pernah memberikan ulasan bahwa masyarakat pluralistik di Indonesia merupakan sebuah "Laboratorium Sosial" terbesar didunia, tidak salah memang ungkapan tersebut, tercatat sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai sekarang baragam konflik terjadi mulai dari Sabang sampai Merauke.

Membangun Budaya Politik Unggul di Tengah Masyarakat Yang Pluralistik.

Dalam pembangunan budaya politik unggul di tengah masyarakat yang pluralistik terdapat dua kemungkinan, yaitu berhasil atau tidak.

Sifat pluralistik tidak pernah terlepas dari faham penyerta yakni individualisme dan liberalisme. Individualisme adalah sifat yang terlalu mengagungkan kepentingan diri sendiri, tanpa memperdulikan orang lain. Sedangkan sifat liberalisme berarti memuja kebebasan dengan menerapkan prinsip persaingan yang bebas.

Penerapan dari kedua faham tersebut tanpa kendali pasti akan memicu terjadinya perebutan kepentingan yang bermuara pada konflik.

Misal dari sifat atau faham individualisme, seperti yang telah dituliskan diatas sebelumnya bahwa pebentukan budaya politik tidak pernah terlepas dari rakyat, dan dan dapat terbentuk dari adanya suatu demokrasi dalam budaya politik.

Dapat kita lihat dari kata demokrasi yang berarti tidak boleh mementingkan diri sendiri dan harus menghargai pendapat orang lain. Tidak boleh memutuskan sesuatu secara sepihak, melainkan harus dirundingkan terlebih dahulu secara mufakat.

Jika suatu masyarakat yang individualisme di tuntut demokratis, dapat terjadi kemungkinan adanya sikap atau perilaku yang kurang adil yang memicu ketidak puasan masyarakat karena merasa pendapatnya tidak didengar dan tidak direalisasikan yang pastinya akan berakhir menjadi konflik.

Kemudian misal dari sifat atau faham liberalisme, yang menerapkan prinsip persaingan yang bebas. Dalam membentuk budaya politik unggul, masih terdapat masalah yaitu etika politik kita masih terjebak dalam lingkup ekonomi dan kekuasaan yang bukan melahirkan budaya unggul, malah melahirkan budaya konsumtif dan arogansi. Ditambah dengan adanya sifat atau faham liberalisme ini, sehingga masyarakat dapat bersaing secara bebas, dan itu dapat memungkinkan mereka untuk mengahalalkan segala cara yang ada mengingat masalah yang telah disebutkan tadi. Sifat konsumtif serta arogansi mereka dapat mewujudkan masalah menjadi lebih nyata untuk ekonomi dan kekuasaan. Yaitu malah memanfaatkan faham ini untuk meninggikan tingkat ekonomi dan kekuasaan mereka, burukya dengan cara yang tidak sportif seperti korupsi, penggelapan-penggelapan dana, dan lain sebagainya. Tidak mewujudkan budaya politik unggul

Itu semua adalah kemungkinan buruknya, yang mungkin tidak akan bisa mewujudkan budaya politik unggul. Tetapi disisi lain pasti ada juga kemungkinan dimana budaya politik unggul pasti terwujud.

Dalam masyarakat berbangsa dan bernegara, selalu diperlukan ideology, dasar hukum, atau cita hukum. Ini bertujuan untuk mempersatukan rakyat dari bangsa atau Negara itu sendiri demi mewujudkan kepentingan bersama juga tentunya. Cita hukum tersebut berisi nilai yang menjadi landasan bagi penyusunan peraturan perundang-undangan suatu Negara. Cita hukum ini bersifat konstitutif dan regulatif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara bagi masyarakat dari bangsa yang bersangkutan. Dan kemudian isi dan prinsip dari landasan hukum suatu Negara itu harus ditegakkan dan harus mampu menyusun peraturan untuk masyarakatnya dalam bersikap dan bertingkah laku. Semuanya yang tidak terdapat dalam suatu landasan Negara tadi harus dihapus, dan semua yang menyalahi peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan juga harus di tindak tegas. Disini memang sangat diperlukan ketegasan, keadilan, dan kejujuran dari seorang pemimpin, sehingga dapat terbentuk sikap atau perilaku masyarakatnya yang tertib. Ini bukan di tunjukkan secara otoriter, tentunya suatu Negara boleh tegas, tanpa harus menutup kebebasan orang berpendapat. Setiap orang bebas berpendapat dan turut andil dalam sistem politik asalkan tetap dalam aturan, dan tidak bersikap anarkis atau bahkan sampai merugikan orang lain.

Dengan sistem politik yang memadai, dan masyaraktnya yang bersedia turut andil dalam sistem politik, juga jalannya peraturan hukum yang jelas dan tegas. Jika itu bnar-benar dapat terbentuk, budaya politik unggul pun bukan suatu emustahilan untuk terwujud dalam suatu organisasi yang disebut bangsa atau Negara itu.

Read More

Jumat, September 16, 2011

Undecided


Satu persatu dilihatnya kumpulan gambar dua dimensi itu
Dimana waktu bisa abadi disana
Dimana waktu tak bisa terhapus dari sana
Perlahan pandangannya berubah
Semakin … sayu, matanya menyempit
Seakan menahan air mata yang ingin keluar
Kenapa?
Kenapa harus kenangan jelek menyedihkan yang muncul?
Dia seperti bukan bagian dari mereka
Hanya orang lain yang kebetulan hidup diantara mereka
Tapi … sebenarnya yang dia inginkan adalah,
Hidup bersama mereka
Bersanding dengan mereka
Menjadi sesuatu yang berarti di tengah mereka
Keinginannya tidak berlebihan aku kira
Hanya butuh sedikit pengertian yang lebih jelas
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kehidupan ini cerita,
Dan dia tau, dia sama sekali tidak menginginkan cerita sedih
Apalagi itu ada pada ceritanya


 
Read More

Tribute For



Hari ini ada pelajaran Fisika di sekolahku. Ya. Seperti biasa, karna aku nggak suka Fisika, jadi ya … emang biasa-biasa aja.
Tapi guru Fisika ku yang ini aku rasa sedikit nggak biasa. Beliau bernama Pak Edi, sudah dari kelas satu SMA aku di ajar olehnya. Pak Edi ini orangnya baik, ramah, pinter Fisika, ditambah murah ngasih nilai ke muridnya. Sifat terakhir yang aku sebutin, itu yang paling aku suka.
Setiap pelajaran Fisika beliau selalu memberi palajaran yang bermutu! Tapi maaf maaf aja, karna buat aku itu agak nggak menarik, sering bikin gondok gara-gara rumus-rumusnya yang ribet. -_-
Tapi beliau merupakan salah satu guru yang aku suka –bukan karna pelajarannya-. Menurut aku, beliau bisa di bilang sebagai salah satu pelopor nasionalisme *eaeaa. Hehe. Karna sepenglihatan aku, beliau sangat peduli dengan murid-muridnya juga masa depannya untuk Indonesia.
Setiap pelajaran Fisika, cukup sering beliau bercerita. Walaupun tidak di setiap pertemuan. Tapi aku suka inget sama beberapa ceritanya. Salah satunya ketika beliau bercerita tentang Lagu Balonku yang sempat menjadi perdebatan para ulama. Katanya, para ulama pernah protes pada yang menciptakan lagu berjudul Balonku. Katanya, warna-warna balon yang terdapat pada lagu tersebut yaitu hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru mempunyai arti masing-masing. Aku lupa artinya pokoknya ada politik, dan lain-lain gituu. Dan pada lagu itu yang meletus adalah balon hijau, dimana warna hijau adalah lambang para ulama. Ketika mendengarnya, teman-teman sekelasku malah tertawa. Dan ketika itu beliau juga berkata kira-kira begini: Ternyata ada ya orang yang seteliti itu apalagi sampai menganalisa arti warna dari lagu balonku. Kamipun kembali tertawa.
Lalu ada lagi, katanya di Amerika atau mana aku agak lupa, pernah ada orang penting gitu yang suka ngumpul kayak organisasi gitu lah. Ada yang pernah mengusulkan bahwa organisme mati yang tidak berguna lagi, sebaiknya dibuang keluar angkasa karena dengan begitu tidak akan memakan lahan di bumi. Begitupun manusia yang sudah mati, karena juga merupakan organisme mati juga sebaiknya di makamkan di luar angkasa. Tetapi itu tidak di setujui. Kata guru saya tadi, sekarang masih ada saja orang yang sangat tertarik dengan luar angkasa dan menelitinya. Tapi bagaimana kalau sudah jaman anak cucu kita? Ketika tau di luar angkasa temapat pembuangan organisme mati, mungkin tidak ada lagi yang ingin kesana,karena ketika sudah sampai sana mungkin mereka malah ketakutan, belum sempat meniliti mereka sudah harus bertemu ratusan atau bahkan ribuan pocong yang berlompatan. Kemudian per-film-an Indonesia akan berkembang, bukan hanya hantu kuntilanak yang suka bertengger di pohon, tetapi juga akan ada film Pocong atau Kuntilanak Luar Angkasa. Itu kembali membuat kita membayangkan dan tertawa. Haha.
Maish banyak cerita beliau yang menurut aku sangat menarik. Bener-bener suka aku dengernya. Sampai ada lagi cerita beliau yang terdengar seperti curhat. Awalnya beliau bercerita tentang yang berhubungan dengan Gerak Melingkar. Tentang tembakan Amerika saat berperang. Tembakannya mengarah tinggiiii sekali ke atas, kemudian akhirnya menukik kebawah, dan meledakkan tempat yang diserang seketika. Nah proses tembakan sampai menukiknya lah yang disebut dengan gerak melingkar. Lalu setelah menyampaikan rumus-rumus yang susah menurutku. Beliau berkata kira-kira begini: Saya itu ingin sekali ada ilmuan-ilmuan dari Indonesia juga untuk Indonesia. Beliau pernah bercerita juga tentang orang Indonesia, ilmuan-ilmuan yang sudah terkenal di kalangan dunia yang terlahir di Indonesia, tetapi sayangnya mereka bukan ikut mengembangkan Indonesia, tetapi malah Negara lain, seperti di Jepang, Malaysia, dan lain-lain aku lupa. Beliau ingin ada murid dari sekolahku yang bisa seperti itu, dan bisa mengembangkan Indonesia.
Beliau ingin anak-anak muda Indonesia itu pintar-pintar. Dan pemerintah bisa lebih memfokuskan pendidikan, untuk masa depan yang lebih baik untuk individunya ataupun Negara. Lalu beliau berharap coba saja di Indonesia semua sekolah RSBI seperti sekolahku, setidaknya itu akan membantu karena perkembangan kemampuan intelektual murid akan dapat lebih tinggi. Dan seketika murid-murid dikelasku berkata, kira-kira begini: kalau begitu nggak ada orang yang mau sekolah. Guruku malah kaget mendengarnya, dan berkata dengan nada kecewa. Menyanyakan kenapa demikian? Cepat teman-temanku dan aku menjawab Mahall Pak! Raut wajah kecewa semakin terlihat dari muka beliau. Sampai aku lihat, beliau bingung mau berkata apa. Sedikit kata yang aku ingat," saya sebanarnya cuma berharap kalau murid-murid Indonesia itu bisa pintar pintar. Tapi… kalau kalian sudah bilang mahal. Ya… sudah…saya nggak bisa ngomong apa-apa lagi". Aku dengernya juga sedih sih, iyaya, aku juga pingin orang-orang bisa pinter semua. Tapi gimana juga caranya? Aku nggak tau.
Ya, aku rasa kekecewaan itu mendasar. Seharusnya ada realisasi atau tindakan dalam harapan. Tapi kalau sendiri? Susah juga sih.
:(

 
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Blogroll

Download

Apapun proses yang tengah kamu jalani, percaya deh! Kamu hebat :)

Popular Posts

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Followers

Angka Hoki

Cari Blog Ini

Translate

Laman

Pages - Menu

Popular Posts

BTemplates.com

Blogroll

About

About

Copyright © vikaetiana | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com